Search

Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia 3. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Mei 2011

Bahasa Indonesia 3: Semantik/makna

“mengenekan” atau memakai baju; dengan dasar kuda melahirkan makna gramatikal’ mengendarai kuda.’
Makna kontekstual adalah makna sebuak leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks, contoh:
a. Ulat itu menempel di atas kepala ayah.
b. Rapat wali murid besok senin akan dipimpin oleh kepala sekolah.
c. Dalam surat undangan itu terdapat kepala surat.
2. makna Referesensial dan Nonreferensial

Kata yang bermakna referensial adalah kata yang ada acuanya, misalnya kambing, kuning, lukisan (kata-kata tersebut ada acuanya dalam dunia nyata). Sedangkan kata dan, atau, karena merupakan kata yang tidak termasuk makna ferensial karena kata itu tidak ada acuanya.
Kata deiktik adalah kata yang termasuk pronomina seperti dia, saya, dan kamu, kata yang menyatakan ruang seperti di sini, di sana, di situ, kata yang menyatakan waktu seperti sekarang, besok, nanti, kemarin dll, dan kata-kata petunjuk seperti ini, itu.

3. Makna Denotatif dan Makna Konotatif

Makna Denotatif adalah makna asli, makna asal atau makna sebenarnya sehingga makna denotatif sama dengan makna leksikal, misalnya kata kurus memiliki sinonim kerempeng dan ramping, kata kerempeng mengandung nilai rasa yang tidak mengenakan (konotasi negatif) sedangkan ramping nilai rasanya lebih mengenakan (konotasi positif).

4. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif

Makna konseptual ialah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari asosiasi apapun, misalnya kata rumah memiliki makna konseptual “bangunan tempat tinggal manusia”. Sedangkan makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem/kata yang ada hubungan antara kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa, misalnya kata “melati” ini memiliki makna konseptual bunga kecil berwarna putih dan berbau harum, sedangkan makna asosiatifnya adalah sesuatu yang suci atau kesucian.

5. Makna Kata dan Makna Istilah

Makna kata akan lebih jelas jika kata itu sudah berada di dalam konteks situasinya. Misalnya kata “naik” kata itu jika kita buat dalam kalimat akan lebih jelas maknanya
a. Tangannya luka kena pecahan kaca
b. Lenganya luka kena pecahan kaca.
Tangan dan lengan tersebut mengandung makna kata yang sama.
Makna istilah mempunyai makna yang pasti, jelas dan tidak meragukan meski tanpa kontek kalimat. Makna lengan dan tangan jika dalam dunia kedokteran memiliki makna yang berbeda.

Kamis, 12 Mei 2011

Bahasa Indonesia 3: sinopsis film

WAKIL RAKYAT

Sutradara

Monty Tiwa

Produser

Chand Parvez

Penulis

Eric Tiwa

Pemeran

Tora Sudiro
Revalina S Temat
Vincent Rompies
Jaja Mihardja
Gading Marten
Dwi Sasono
Tarzan
Wiwid Gunawan
Joe Project P

Distributor

Starvision

Durasi

... menit

Negara

Indonesia


Bagyo (Tora Sudiro) dituduh mengacaukan acara rakernas sebuah partai besar pimpinan Zainuddin (Joe Project P), karena insiden itu Bagyo harus kehilangan pekerjaannya. Musibah itu membuat rencana pernikahannya dengan Ani (Revalina S. Temat) terancam batal. Ditambah lagi Abdul (Jaja Mihardja), ayah Ani memang tidak menyukainya. Bagyo terpaksa harus mencari cara untuk mewujudkan impiannya menikah bersama Ani.

Sekumpulan perampok sedang merampok seorang artis terkenal, Atika (Wiwid Gunawan). Aksi itu gagal karena Bagyo tiba-tiba muncul dan menghajar mereka. Atika luput dari bahaya, sehingga Bagyo disanjung sebagai pahlawan. Namanya langsung jadi buah bibir di berbagai media nasional maupun daerah. Ketenaran Bagyo dimanfaatkan oleh sebuah partai politik papan atas untuk menggaet dukungan massa. Bagyo dirayu oleh sang ketua partai, Wibowo (Tarzan) dan asistennya Dani (Dwi Sasono). Ditemani bekas anak buahnya yang bernama Jereng (Vincent Ryan Rompies) Ia pun berangkat untuk berkampanye di Wadasrejo, sebuah daerah terpencil yang rakyatnya hidup serba kekurangan.

Ternyata masyarakat Wadasrejo tidak mengenal sosoknya sama sekali. Bagyo harus mencari akal untuk memperkenalkan diri dan menarik simpati warga. Bagyo menemukan kenyataan lain yang lebih penting daripada nama besar dan popularitas. Masyarakat desa lebih tahu apa yang paling mereka butuhkan.