Search

Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia 2. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juni 2011

Bahasa Indonesia 2: Perkembangan Sastra Indonesia

Sastra Indonesia, adalah sebuah istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra di Asia Tenggara. Istilah "Indonesia" sendiri mempunyai arti yang saling melengkapi terutama dalam cakupan geografi dan sejarah poltik di wilayah tersebut.
Sastra Indonesia sendiri dapat merujuk pada sastra yang dibuat di wilayah Kepulauan Indonesia. Sering juga secara luas dirujuk kepada sastra yang bahasa akarnya berdasarkan Bahasa Melayu (dimana bahasa Indonesia adalah satu turunannya). Dengan pengertian kedua maka sastra ini dapat juga diartikan sebagai sastra yang dibuat di wilayah Melayu (selain Indonesia, terdapat juga beberapa negara berbahasa Melayu seperti Malaysia dan Brunei), demikian pula bangsa Melayu yang tinggal di Singapura.Secara urutan waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan:
  • Angkatan Pujangga Lama
  • Angkatan Sastra Melayu Lama
  • Angkatan Balai Pustaka
  • Angkatan Pujangga Baru
  • Angkatan 1945
  • Angkatan 1950 - 1960-an
  • Angkatan 1966 - 1970-an
  • Angkatan 1980 - 1990-an
  • Angkatan Reformasi
  • Angkatan 2000-an
Pujangga Lama

Pujangga lama merupakan bentuk pengklasifikasian karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya satra di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat. Di Nusantara, budaya Melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat meliputi sebagian besar negara pantai Sumatera dan Semenanjung Malaya. Di Sumatera bagian utara muncul karya-karya penting berbahasa Melayu, terutama karya-karya keagamaan. Hamzah Fansuri adalah yang pertama di antara penulis-penulis utama angkatan Pujangga Lama. Dari istana Kesultanan Aceh pada abad XVII muncul karya-karya klasik selanjutnya, yang paling terkemuka adalah karya-karya Syamsuddin Pasai dan Abdurrauf Singkil, serta Nuruddin ar-Raniri.

hasil karya:
Sejarah Melayu

Hikayat
  • Hikayat Abdullah
  • Hikayat Aceh
  • Hikayat Amir Hamzah
  • Hikayat Andaken Penurat
  • Hikayat Bayan Budiman
  • Hikayat Djahidin
  • Hikayat Hang Tuah
  • Hikayat Iskandar Zulkarnain
  • Hikayat Kadirun
  • Hikayat Kalila dan Damina
  • Hikayat Masydulhak
  • Hikayat Pandawa Jaya
  • Hikayat Pandja Tanderan
  • Hikayat Putri Djohar Manikam
  • Hikayat Sri Rama
  • Hikayat Tjendera Hasan
  • Tsahibul Hikayat

Syair:
  • Syair Bidasari
  • Syair Ken Tambuhan
  • Syair Raja Mambang Jauhari
  • Syair Raja Siak

Sastra Melayu Lama
Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870 - 1942, yang berkembang dilingkungan masyarakat Sumatera seperti "Langkat, Tapanuli, Minangkabau dan daerah Sumatera lainnya", orang Tionghoa dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat.

Karya karya sastra melayu lama
  • Robinson Crusoe (terjemahan)
  • Lawan-lawan Merah
  • Mengelilingi Bumi dalam 80 hari (terjemahan)
  • Graaf de Monte Cristo (terjemahan)
  • Kapten Flamberger (terjemahan)
  • Rocambole (terjemahan)
  • Nyai Dasima oleh G. Francis (Indo)
  • Bunga Rampai oleh A.F van Dewall
  • Kisah Perjalanan Nakhoda Bontekoe
  • Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan
  • Kisah Pelayaran ke Makassar dan lain-lainnya
  • Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R Kommer (Indo)
  • Cerita Nyi Paina
  • Cerita Nyai Sarikem
  • Cerita Nyonya Kong Hong Nio
  • Nona Leonie
  • Warna Sari Melayu oleh Kat S.J
  • Cerita Si Conat oleh F.D.J. Pangemanan
  • Cerita Rossina
  • Nyai Isah oleh F. Wiggers
  • Drama Raden Bei Surioretno
  • Syair Java Bank Dirampok
  • Lo Fen Kui oleh Gouw Peng Liang
  • Cerita Oey See oleh Thio Tjin Boen
  • Tambahsia
  • Busono oleh R.M.Tirto Adhi Soerjo
  • Nyai Permana
  • Hikayat Siti Mariah oleh Hadji Moekti (indo)
  • dan masih ada sekitar 3000 judul karya sastra Melayu-Lama lainnya
Angkatan Balai Pustaka

Angkatan Balai Pusataka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.
Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak, dan bahasa Madura.
Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai "Raja Angkatan Balai Pustaka" oleh sebab banyak karya tulisnya pada masa tersebut. Apabila dilihat daerah asal kelahiran para pengarang, dapatlah dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan ini adalah "novel Sumatera", dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya.
Pada masa ini, novel Siti Nurbaya dan Salah Asuhan menjadi karya yang cukup penting. Keduanya menampilkan kritik tajam terhadap adat-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Dalam perkembangannya, tema-teman inilah yang banyak diikuti oleh penulis-penulis lainnya pada masa itu.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka:
Merari Siregar
Azab dan Sengsara (1920)
Binasa kerna Gadis Priangan (1931)
Cinta dan Hawa Nafsu

Marah Roesli
Siti Nurbaya (1922)
La Hami (1924)
Anak dan Kemenakan (1956)

Muhammad Yamin
Tanah Air (1922)
Indonesia, Tumpah Darahku (1928)
Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
Ken Arok dan Ken Dedes (1934)

Nur Sutan Iskandar
Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923)
Cinta yang Membawa Maut (1926)
Salah Pilih (1928)
Karena Mentua (1932)
Tuba Dibalas dengan Susu (1933)
Hulubalang Raja (1934)
Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)

Tulis Sutan Sati
Tak Disangka (1923)
Sengsara Membawa Nikmat (1928)
Tak Membalas Guna (1932)
Memutuskan Pertalian (1932)

Djamaluddin Adinegoro
Darah Muda (1927)
Asmara Jaya (1928)

Abas Soetan Pamoentjak
Pertemuan (1927)

Abdul Muis
Salah Asuhan (1928)
Pertemuan Djodoh (1933)

Aman Datuk Madjoindo
Menebus Dosa (1932)
Si Cebol Rindukan Bulan (1934)
Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)

Pujangga Baru

Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis.
Pada masa itu, terbit pula majalah Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 - 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Karyanya Layar Terkembang, menjadi salah satu novel yang sering diulas oleh para kritikus sastra Indonesia. Selain Layar Terkembang, pada periode ini novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck dan Kalau Tak Untung menjadi karya penting sebelum perang.
Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu :
Kelompok "Seni untuk Seni" yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah
Kelompok "Seni untuk Pembangunan Masyarakat" yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.

Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru
Sutan Takdir Alisjahbana
Dian Tak Kunjung Padam (1932)
Tebaran Mega - kumpulan sajak (1935)
Layar Terkembang (1936)
Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940)
Hamka
Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938)
Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939)
Tuan Direktur (1950)
Didalam Lembah Kehidoepan (1940)
Armijn Pane
Belenggu (1940)
Jiwa Berjiwa
Gamelan Djiwa - kumpulan sajak (1960)
Djinak-djinak Merpati - sandiwara (1950)
Kisah Antara Manusia - kumpulan cerpen (1953)
Sanusi Pane
Pancaran Cinta (1926)
Puspa Mega (1927)
Madah Kelana (1931)
Sandhyakala Ning Majapahit (1933)
Kertajaya (1932)
Tengku Amir Hamzah
Nyanyi Sunyi (1937)
Begawat Gita (1933)
Setanggi Timur (1939)
Roestam Effendi
Bebasari: toneel dalam 3 pertundjukan
Pertjikan Permenungan
Sariamin Ismail
Kalau Tak Untung (1933)
Pengaruh Keadaan (1937)
Anak Agung Pandji Tisna
Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1935)
Sukreni Gadis Bali (1936)
I Swasta Setahun di Bedahulu (1938)
J.E.Tatengkeng
Rindoe Dendam (1934)
Fatimah Hasan Delais
Kehilangan Mestika (1935)
Said Daeng Muntu
Pembalasan
Karena Kerendahan Boedi (1941)
Karim Halim
Palawija (1944)

Angkatan 1945
Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan '45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik-idealistik. Karya-karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar. Sastrawan angkatan '45 memiliki konsep seni yang diberi judul "Surat Kepercayaan Gelanggang". Konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan angkatan '45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani. Selain Tiga Manguak Takdir, pada periode ini cerpen Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma dan Atheis dianggap sebagai karya pembaharuan prosa Indonesia.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1945
Chairil Anwar
Kerikil Tajam (1949)
Deru Campur Debu (1949)
Asrul Sani, bersama Rivai Apin dan Chairil Anwar
Tiga Menguak Takdir (1950)
Idrus
Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948)
Aki (1949)
Perempuan dan Kebangsaan
Achdiat K. Mihardja
Atheis (1949)
Trisno Sumardjo
Katahati dan Perbuatan (1952)
Utuy Tatang Sontani
Suling (drama) (1948)
Tambera (1949)
Awal dan Mira - drama satu babak (1962)
Suman Hs.
Kasih Ta' Terlarai (1961)
Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)
Pertjobaan Setia (1940)

Angkatan 1950 - 1960-an

Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Sastra.
Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan di antara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1950 - 1960-an
Pramoedya Ananta Toer
Kranji dan Bekasi Jatuh (1947)
Bukan Pasar Malam (1951)
Di Tepi Kali Bekasi (1951)
Keluarga Gerilya (1951)
Mereka yang Dilumpuhkan (1951)
Perburuan (1950)
Cerita dari Blora (1952)
Gadis Pantai (1965)
Nh. Dini
Dua Dunia (1950)
Hati jang Damai (1960)
Sitor Situmorang
Dalam Sadjak (1950)
Djalan Mutiara: kumpulan tiga sandiwara (1954)
Pertempuran dan Saldju di Paris (1956)
Surat Kertas Hidjau: kumpulan sadjak (1953)
Wadjah Tak Bernama: kumpulan sadjak (1955)
Mochtar Lubis
Tak Ada Esok (1950)
Jalan Tak Ada Ujung (1952)
Tanah Gersang (1964)
Si Djamal (1964)
Marius Ramis Dayoh
Putra Budiman (1951)
Pahlawan Minahasa (1957)
Ajip Rosidi
Tahun-tahun Kematian (1955)
Ditengah Keluarga (1956)
Sebuah Rumah Buat Hari Tua (1957)
Cari Muatan (1959)
Pertemuan Kembali (1961)
Ali Akbar Navis
Robohnya Surau Kami - 8 cerita pendek pilihan (1955)
Bianglala - kumpulan cerita pendek (1963)
Hujan Panas (1964)
Kemarau (1967)
Toto Sudarto Bachtiar
Etsa sajak-sajak (1956)
Suara - kumpulan sajak 1950-1955 (1958)
Ramadhan K.H
Priangan si Jelita (1956)
W.S. Rendra
Balada Orang-orang Tercinta (1957)
Empat Kumpulan Sajak (1961)
Ia Sudah Bertualang (1963)
Subagio Sastrowardojo
Simphoni (1957)
Nugroho Notosusanto
Hujan Kepagian (1958)
Rasa Sajangé (1961)
Tiga Kota (1959)
Trisnojuwono
Angin Laut (1958)
Dimedan Perang (1962)
Laki-laki dan Mesiu (1951)
Toha Mochtar
Pulang (1958)
Gugurnya Komandan Gerilya (1962)
Daerah Tak Bertuan (1963)
Purnawan Tjondronagaro
Mendarat Kembali (1962)
Bokor Hutasuhut
Datang Malam (1963)

Angkatan 1966 - 1970-an

Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Mochtar Lubis. Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra dengan munculnya karya sastra beraliran surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd. Penerbit Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini. Sastrawan pada angkatan 1950-an yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B. Jassin.
Beberapa satrawan pada angkatan ini antara lain: Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail, dan banyak lagi yang lainnya.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1966
Taufik Ismail
Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
Tirani dan Benteng
Buku Tamu Musim Perjuangan
Sajak Ladang Jagung
Kenalkan
Saya Hewan
Puisi-puisi Langit
Sutardji Calzoum Bachri
O
Amuk
Kapak
Abdul Hadi WM
Meditasi (1976)
Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975)
Tergantung Pada Angin (1977)
Sapardi Djoko Damono
Dukamu Abadi (1969)
Mata Pisau (1974)
Goenawan Mohamad
Parikesit (1969)
Interlude (1971)
Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972)
Seks, Sastra, dan Kita (1980)
Umar Kayam
Seribu Kunang-kunang di Manhattan
Sri Sumarah dan Bawuk
Lebaran di Karet
Pada Suatu Saat di Bandar Sangging
Kelir Tanpa Batas
Para Priyayi
Jalan Menikung
Danarto
Godlob
Adam Makrifat
Berhala
Nasjah Djamin
Hilanglah si Anak Hilang (1963)
Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1968)
Putu Wijaya
Bila Malam Bertambah Malam (1971)
Telegram (1973)
Stasiun (1977)
Pabrik
Gres
Bom
Djamil Suherman
Perjalanan ke Akhirat (1962)
Manifestasi (1963)
Titis Basino
Dia, Hotel, Surat Keputusan (1963)
Lesbian (1976)
Bukan Rumahku (1976)
Pelabuhan Hati (1978)
Pelabuhan Hati (1978)
Leon Agusta
Monumen Safari (1966)
Catatan Putih (1975)
Di Bawah Bayangan Sang Kekasih (1978)
Hukla (1979)
Iwan Simatupang
Ziarah (1968)
Kering (1972)
Merahnya Merah (1968)
Keong (1975)
RT Nol/RW Nol
Tegak Lurus Dengan Langit
M.A Salmoen
Masa Bergolak (1968)
Parakitri Tahi Simbolon
Ibu (1969)
Chairul Harun
Warisan (1979)
Kuntowijoyo
Khotbah di Atas Bukit (1976)
M. Balfas
Lingkaran-lingkaran Retak (1978)
Mahbub Djunaidi
Dari Hari ke Hari (1975)
Wildan Yatim
Pergolakan (1974)
Harijadi S. Hartowardojo
Perjanjian dengan Maut (1976)
Ismail Marahimin
Dan Perang Pun Usai (1979)
Wisran Hadi
Empat Orang Melayu
Jalan Lurus

Angkatan 1980 - 1990an

Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum.
Beberapa sastrawan yang dapat mewakili angkatan dekade 1980-an ini antara lain adalah: Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Pipiet Senja, Kurniawan Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor Hasby, Tarman Effendi Tarsyad, Noor Aini Cahya Khairani, dan Tajuddin Noor Ganie.
Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada dekade 1980-an dengan beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, La Barka, Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, di mana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.
Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-karya pada era 1980-an biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.
Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 1980-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop, yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang dipelopori oleh Hilman Hariwijaya dengan serial Lupusnya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih berat.
Ada nama-nama terkenal muncul dari komunitas Wanita Penulis Indonesia yang dikomandani Titie Said, antara lain: La Rose, Lastri Fardhani, Diah Hadaning, Yvonne de Fretes, dan Oka Rusmini.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1980 - 1990an
Ahmadun Yosi Herfanda
Ladang Hijau (1980)
Sajak Penari (1990)
Sebelum Tertawa Dilarang (1997)
Fragmen-fragmen Kekalahan (1997)
Sembahyang Rumputan (1997)
Y.B Mangunwijaya
Burung-burung Manyar (1981)
Darman Moenir
Bako (1983)
Dendang (1988)
Budi Darma
Olenka (1983)
Rafilus (1988)
Sindhunata
Anak Bajang Menggiring Angin (1984)
Arswendo Atmowiloto
Canting (1986)
Hilman Hariwijaya
Lupus - 28 novel (1986-2007)
Lupus Kecil - 13 novel (1989-2003)
Olga Sepatu Roda (1992)
Lupus ABG - 11 novel (1995-2005)
Dorothea Rosa Herliany
Nyanyian Gaduh (1987)
Matahari yang Mengalir (1990)
Kepompong Sunyi (1993)
Nikah Ilalang (1995)
Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999)
Gustaf Rizal
Segi Empat Patah Sisi (1990)
Segi Tiga Lepas Kaki (1991)
Ben (1992)
Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999)
Remy Sylado
Ca Bau Kan (1999)
Kerudung Merah Kirmizi (2002)
Afrizal Malna
Tonggak Puisi Indonesia Modern 4 (1987)
Yang Berdiam Dalam Mikropon (1990)
Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991)
Dinamika Budaya dan Politik (1991)
Arsitektur Hujan (1995)
Pistol Perdamaian (1996)
Kalung dari Teman (1998)

Angkatan Reformasi

Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang "Sastrawan Angkatan Reformasi". Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar reformasi. Di rubrik sastra harian Republika misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.
Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra -- puisi, cerpen, dan novel -- pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep Zamzam Noer, dan Hartono Benny Hidayat dengan media online: duniasastra(dot)com -nya, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan Reformasi
Widji Thukul
Puisi Pelo
Darman

Angkatan 2000-an

Setelah wacana tentang lahirnya sastrawan Angkatan Reformasi muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karena tidak memiliki juru bicara, Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya "Sastrawan Angkatan 2000". Sebuah buku tebal tentang Angkatan 2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta pada tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir 1990-an, seperti Ayu Utami dan Dorothea Rosa Herliany.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 2000
Ayu Utami
Saman (1998)
Larung (2001)
Seno Gumira Ajidarma
Atas Nama Malam
Sepotong Senja untuk Pacarku
Biola Tak Berdawai
Dewi Lestari
Supernova 1: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001)
Supernova 2.1: Akar (2002)
Supernova 2.2: Petir (2004)
Raudal Tanjung Banua
Pulau Cinta di Peta Buta (2003)
Ziarah bagi yang Hidup (2004)
Parang Tak Berulu (2005)
Gugusan Mata Ibu (2005)
Habiburrahman El Shirazy
Ayat-Ayat Cinta (2004)
Diatas Sajadah Cinta (2004)
Ketika Cinta Berbuah Surga (2005)
Pudarnya Pesona Cleopatra (2005)
Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007)
Ketika Cinta Bertasbih 2 (2007)
Dalam Mihrab Cinta (2007)
Andrea Hirata
Laskar Pelangi (2005)
Sang Pemimpi (2006)
Edensor (2007)
Maryamah Karpov (2008)
Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas (2010)
Ahmad Fuadi
Negeri 5 Menara (2009)
Ranah 3 Warna (2011)
Tosa
Lukisan Jiwa (puisi) (2009)
Melan Conis (2009)

sumber: wikipedia (kalo kurang bisa ditambah lagi ya.....thanks)

Bahasa Indonesia 2: Cerpen

Keinginan dan Takdir Hidup
oleh: Eka Astra Wijayan

Sesekali Tria memandang jauh kearah barat, memperhatikan matahari yang setengah tenggelam dengan cahaya jingganya yang memukau, suara kereta api yang lalu-lalang membuat suasana semakin ramai, deretan penumpang dengan berbagai tujuan sedang menunggu waktu keberangkatan. Dan Tria hanya duduk menunggu pembeli yang datang membeli sesuatu yang mungkin mereka butuhkan saat berada dalam kereta nanti, seperti Tissue, Permen, Rokok, Antimo, serta makanan dan minuman kecil barangkali.
“ Mari Pak…Bu…Tissue-nya,..Permen …permen….rokok..rokok…Pak…mari silahkan beli.” Tawar Yon pada orang-orang yang lalu-lalang.
Hari itu, dagangan Tria hanya laku beberapa saja. Hari sudah beranjak malam, Tria melangkah keluar dari Stasiun tugu Jogja yang luas itu. Namun langkahnya terhenti ketika melihat nenek tua yang renta sedang berjongkok di ujung pintu gerbang sambil meminta-minta.
“ Maturnuwun Ngger….terima kasih…simbah seharian ini belum makan.” Kata Nenek itu ketika menerima uang pemberian dari Tria.
“ Nggih Mbah…sama-sama, hanya sedikit rezeki dari saya, semoga bermanfaat untuk simbah.” Jawab Tria.
Uang hari ini yang hanya seberapa dari hasil Tria berjualan di Stasiun Tugu, telah Ia berikan kepada Nenek peminta-minta itu. Yang tersisa sedikit hanya cukup untuk makan malam ini saja.

Matahari bersinar dengan indahnya dari ufuk timur, menembus dinding anyaman bamboo milik Tria, sebuah rumah kecil yang terletak di pinggiran JalanA.M Sangaji, seorang anak berusia 16 tahun yang harus berjung untuk hidupnya setelah ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya entah kemana. Tria bergagaas melaksanakan pekerjaanya sehari-hari, menjadi pedangan asongan. Berjalan dengan ringannya, diiringi senyum yang ramah, Sesekali Ia tampak melihat anak-anak yang memakai seragam sekolah, terlintas dibenaknya.
“Seandainya aku bisa sekolah seperti mereka.” Pandangannya lirih, perjuangannya saat ini adalah bagaimana tetap bisa bertahan hidup sebatangkara. Untuk bisa berjuang demi sesuap nasi, namun dalam hatinya, masih ada secercah harapan untuk dapat bersekolah lagi, setelah lebih dari 5 tahun Ia putus sekolah. Hampir Ia sampai di Stasiun Tugu, tepatnya menjajakan beberapa dagangannya, Ia harus berjalan cukup jauh untuk bisa sampai tempat tujuan. Semua itu Ia lakukan dengan ikhlas.
“ Pak,,,,Bu,,,Antimonya Pak,,,,Bu,,,,Aqua,,,,,Aqua,,,,,,Kacang, Susu, Permen…mari silahkan beli.” Seru Tria menjajakan barang dagangannya. Hingga beranjak siang barulah pembeli berdatangan. Hari ini dagangan lumayan laku. Tria berangkat berjualan pukul tujuh pagi dan kembali malam tak tentu, seperti itu setiap hari ia lakukan Ia harus tetap berjuang untuk tetap hidup di Jogja, sebuah kota yang cukup besar dengan penduduknya yang padat merayap. Banyak wisatawan dari dalam maupun luar negeri berdatangan mengunjungi kota Jogja dengan segenap obyek wisatanya yang tak kalah menarik dengan kota-kota lain di Indonesia. Namun, tak begitu untuk Tria, baginya kota Jogja adalah medan peperangan, dimana Ia harus terus berjuang untuk tetap bertahan hidup sebatangkara di kota yang tidak kecil itu.
“ Dek beli rokoknya satu dek.” Seru seorang pembeli dari seberang tempat duduk Tria.
“ Nggih Pak,,,,,,,,sebentar.” Tria berlari kecil menghampiri.
“ Monggo Pak,,,,,,,,mau rokok yang mana ?. “
“ Yang ini saja.” Kata pembeli itu menunjuk rokok Jarum Super.
“ Ini Pak,,,,,, sembilan ribu saja.” Tria mengulurkan rokok pada pembeli itu.
“Ini uangnya, sisanya untuk kamu saja.” Kata si pembeli itu memberikan selembar uang sepuluh ribuan.
“ Matur nuwun nggih Pak,,,,,,,,terima kasih.” Jawab Tria girang. Hari ini begitu melelahkan bagi Tria, namun demikian Ia tetap bersemangat berdagang, Ia beristrahat sejenak di sebuah lorong kecil stasiun sembari memandang anak-anak pulang sekolah yang melewati Stasiun Tugu. Tria ingin sekali seperti mereka, bisa sekolah memiliki banyak teman. Namun, apalah daya. Takdir telah membawanya seperti ini. Kalau Ia boleh memilih, tentu Ia akan memilih hidup yang layak dan bisa bersekolah. Keinginannya terkalahkan oleh takdir yang berkata lain.
“ Suatu saat aku pasti bisa sekolah, entah itu harus menunggu lama.” Gumam Tria. Lalu Ia melanjutkan perjalanannya menjajakan barang dagangannya, Ia tak bisa menolak karena inilah sumber penghidupannya.
“ Mari Bu,,,,,,,,,Pak,,,,,,,,Mas,,,,Mbak,,,,permennya, antimo, aqua, rokok-rokok,silahkan beli.” Tria menjajakan dagangannya.
“ Tria ada Upacara Grebeg Kraton besok di alun-alun Utara setelah sholat Ied, kalau berdagang disana mungkin lumayan laku.” Beri tahu salah satu teman Tria yang bekerja sebagai loper Koran.
“ Benarkah, kalau begitu besuk pagi aku akan kesana, siapa tahu rezeki-ku lebih baik.” Jawab Tria berharap.
Pacara Grebeg Kraton Yogyakarta adalah upacara rutin yang diadakan selesai sholat Ied di alun-alun. Banyak yang menyempatkan untuk menyaksikan jalannya upacara tersebut. Tria ingin mencoba peruntungan berdagang disana, siapa tahu ada penghasilan yang lebih. Tria memang tak pernah menyerah, Ia melakukan apapun dengan ikhlas walaAupun lelah. Jalan hidup yang menuntutnya seperti ini. Tak ada yang dapat dijadikan pengantung hidupnya, hanya Ia sendiri yang harus berusaha.
“ Aku ingin sekolah lagi, tapi apakah bisa.”’ Itulah kata-kata Tria yang selalu Ia upcapkan tiap kali memandang segerombolan anak sekolah. Keinginan Tria untuk bersekolah sangatlah kuat, namun situasi memaksanya tuk urungkan keinginannya bersekolah lagi. Tapi tak mustahil kalau suatu saat ada kesempatan bersekolah lagi., selama masih ada kemauan. Dan Tria percaya itu.
Pagi sekali Tria sudah bergegas menuju Alun-alun Utara yogyakarta, mengenakan celana panjang, dipadu dengan atasan lengan panjang serta tak lupa Ia mengenakan kopiah. Karena ingin sekalian mengikuti sholat Ied disana. Ia tak lelah untuk mencoba peruntungan dimanapun, karena itukah sumber rezekinya hingga Ia bisa bertahan hidup seperti sekarang ini. Hingga siang Ia masih menjajakan dagangannya. Sesekali Ia beristirahat sejenak dibawah pohon, dibawah pohon beringin yang berada ditengah lapangan alun-alun yang cukup luas itu.
“sampai kapan aku akan seperti ini, ini bukan mau-ku, bukan keinginanku, aku ingin seperti anak-anak lain pada umumnya, mempunyai orang tua yang utuh, bisa bersekolah, menikmati masa remaja,. Tapi kenapa takdir seperti ini.” Ratap Tria ketika sedang beristirahat.
Ia harus tetap berjuang, suatu saat Ia pasti dapat menuntut ilmu lagi, entah itu harus mengulang belajar dari awal lagi, karena menuntut ilmu tak mengenal waktu ataupun usia, mungkin dengan seperti ini, Tria bisa belajar, belajar mengerti akan takdir hidup, yang tak selalu selaras dengan keinginan. Ia mengerti, inilah kehidupannya, kehidupan yang harus senantiasa Ia jalani, entah sampai kapan.

-SELESAI-

Kamis, 05 Mei 2011

Bahasa Indonesia 2: sinopsis 2 (denias)


(Ini merupakan tugasku untuk Kajian Film Kontemporer semester ini. )

Dalam ilmu antropologi, ras dikenal sebagai pembedaan/pengelompokan manusia berdasarkan ciri-ciri fisik. Pembedaan itu menyangkut aspek kualitatif seperti warna kulit, bentuk, warna rambut dan sebagainya, sementara ciri kuantitatif menyangkut berat badan, index cephalus (ukuran kepala), dan sebagainya. Sejak lama, pengelompokan ciri fisik ini telah mengakibatkan persoalan yang sangat panjang, melibatkan pertumpahan darah dan pertarungan antar-ideologi besar yang bertahan hingga sekarang.

Ciri-ciri fisik yang melekat pada ras tertentu telah digunakan untuk mengukur dan menilai perkembangan dan kemajuan peradaban ras itu.

Kasus NAZI dengan Hitlernya merupakan satu contoh di mana pencirian secara fisik pada kelompok tertentu digunakan untuk menghancurkan kelompok lain yang dianggap berbahaya dan lebih rendah. Persoalan ras juga telah menghadirkan diskriminasi dan perlakuan yang sangat berbeda terhadap manusia berdasarkan ciri-ciri fisiknya. Seperti NAZI yang menganggap ras Arya sebagai ras tertinggi, muncul pula kepercayaan bahwa ras kulit hitam adalah ras budak, barbar, tidak beradab, dan oleh karena itu rendah.

Di sinilah, studi akan ras muncul sebagai salah satu studi penting. Pada tahun 1960-an, di Amerika Serikat mulai muncul studi atas ras di dalam film. Film merupakan imaji visual di mana persoalan-persoalan sosial, termasuk di dalamnya persoalan ras dan etnis mengemuka. Sejak awal berdirinya industri film Hollywood, persoalan ras menjadi persoalan penting. Salah satu indikatornya adalah penampilan Ku Klux Klan dalam film penting Amerika, Birth of A Nation (1915). Film ini menggambarkan persoalan ras kulit hitam vs. kulit putih pada masa Perang Sipil di Amerika Serikat. Pada akhir tahun 1940-an, mulai muncul aktor kulit hitam pertama yang keluar dari penggambaran stereotip film Hollywood, bernama Sidney Poitier. Penampilan Sidney ini diikuti dengan aktor –aktor lain seperti Paul Robeson, Denzel Washington, dan lain-lain.

Kemunculan aktor, cerita, dan bahkan pembuat film dari ras yang secara umum, dianggap rendah ini menghadirkan tinjauan kembali atas wacana ras. Ras kini dianggap bukan sesuatu yang bersifat biologis dan fisik sehingga tidak bisa diubah dan bersifat terberi, sebaliknya ras merupakan konstruksi sosial dan oleh karena itu, bisa berubah.

Dalam film-film Hollywood, persoalan ras akhirnya dibahas melalui stereotip yang oleh Stuart Hall disebut rezim representasi yang rasis. Stereotip adalah penggambaran seseorang atau sekelompok orang ke dalam beberapa sifat dasarnya yang bersifat tetap, alami dan sangat menyederhanakan. Contohnya, ras kulit hitam selalu digambarkan primitif, emosional, instingtif, tidak intelek, kurang beradab baik dalam hal kehidupan sosial maupun seksual, menjaga berbagai ritual dan sifat-sifat lain yang mendekatkannya dengan sifat alam dan alami.

Stereotip muncul ketika terjadi ketidakadilan. Stereotip cenderung mengelompokkan orang ke dalam mereka yang normal dan mereka yang tersingkirkan, dan oleh karena itu dianggap liyan.

Apa yang liyan dalam masyarakat kulit putih-protestan-Anglo-Saxon Amerika adalah orang kulit hitam/Negro. Bogle mengidentifikasi 5 stereotip ras kulit hitam yang sering ditampilkan oleh film Hollywood. Pertama, Tom yakni karakter negro/kulit hitam yang baik, berhati mulai, selalu dianiaya, religius, disakiti dan dilecehkan, tidak pernah melawan orang kulit putih, dan stoik. Stereotip kedua adalah Coon, tipe Negro yang ringan hati, penghibur, malas, dan berbahasa Inggris buruk. Stereotip ketiga adalah Mullato yang tragis, yang biasanya berupa perempuan campuran yang cantik, menarik dan eksotik secara seksual, dan bernasib malang. Keempat, Mammies (ibu-ibu), sebuah karakter yang biasanya dimainkan oleh perempuan-perempuan gendut, pembantu rumah tangga, dan patuh. Stereotip yang terakhir adalah Bad Bucks, laki-laki kulit hitam yang besar, kuat, dan melakukan kekerasan, baik terhadap sesamanya tapi terutama pada properti dan orang kulit putih.

Dalam konteks Indonesia, persoalan stereotip terhadap orang kulit hitam sebenarnya memiliki mekanisme yang sama. Tetapi, posisi warga yang disebut kulit hitam di Indonesia sangat berbeda dengan posisinya di Amerika Serikat. Kalau di Amerika Serikat dan negara-negara Barat, kaum kulit hitam atau Negro dianggap para imigran yang datang melalui perdagangan budak pada abad 18, maka orang-orang kulit hitam di Indonesia memiliki ruang dan peradaban sendiri.

Orang-orang berkulit hitam dengan ciri-ciri fisik mendekati kaum Negro di Amerika dan Afrika, berdiam di Pulau Papua di mana ratusan etnis masih mempertahankan kebudayaan dan bahasa ‚asli’-nya. Dalam ilmu antropologi, orang-orang berkulit hitam di Pulau Papua, di bagian paling timur Indonesia memiliki kelompok ras yang sama dengan kaum Negro di Afrika dan Amerika, yakni Negroid. Meski demikian, mereka terkelompok sendiri menjadi grup Melanesia bersama penduduk pulau Guinea, dan pulau-pulau kecil di Pasifik (Fiji, Vanuatu, dll).

Sejak lama, ilmuwan Barat, kaum kolonial Belanda dan bahkan televisi Indonesia menjadikan penduduk Papua sebagai pertunjukan etnografi yang eksotik. Dengan alamnya yang indah, peradabannya yang ‚primitif’, dan ritual-ritual sosial-keagamaan yang masih dilaksanakan dengan patuh, penduduk suku-suku pedalaman di Papua dijadikan obyek visual yang menarik, bukan hanya bagi orang Barat tapi juga masyarakat Indonesia sendiri. Meski menganggap mereka sebagai warga Indonesia seperti dirinya, penduduk Indonesia yang mayoritas ber-ras Mongoloid menganggap suku-suku berkulit hitam di Papua sebagai sebuah ‚keanehan’ dan keajaiban di mana seluruh manusia, ritual hingga pakaian suku-suku ini dianggap mewakili keanehan dan eksotisme masa lalu.

Bahkan ketika perusahaan-perusahaan tambang transnasional membangun infrastruktur mdoern di kota-kota di pedalaman Papua dan mengubah lanskap sosial masyarakat setempat, suku-suku Papua ini tidak bisa menolak ‚takdir’nya untuk selalu digambarkan primitif dan eksotik.

Sinema Indonesia pun berhadapan dengan dilema ini. Dalam sinema Indonesia kontemporer, Papua bisa dibilang sangat jarang dijadikan tema (subject-matter) atau lokasi cerita. Pulau yang terletak di bagian paling timur Indonesia dan dihuni oleh puluhan subsuku dengan 300 bahasa yang dipergunakan, hampir tidak pernah masuk sebagai sesuatu yang penting.

Pada tahun 1984, Imam Tantowi membuat sebuah film dengan setting Papua. Film berjudul Dia Sang Penakluk bercerita tentang seorang perempuan manja anak orang kaya yang terpaksa berada di Papua dalam tugas kesehatan. Film ini menampilkan suku Dani sebagai suku yang primitif dan terbelakang. Dua tahun setelahnya, pembuat film terkemuka Indonesia, Teguh Karya, menampilkan karakter Papua dalam melodrama Ibunda. Ditampilkan dalam karakter yang kompleks, Luke, seorang pemuda Papua tetap mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari keluarga Rakhim.

Setelah 1998, SET Film Workshop di bawah Garin Nugroho mungkin merupakan satu-satunya rumah produksi yang pernah mengangkat cerita atau mengambil lokasi film di Papua. Pada tahun 2002, bertepatan dengan memanasnya situasi politik di Papua, Garin Nugroho membuat film berjudul Aku Ingin Menciummu Sekali Saja. Film ini mengetengahkan cerita seorang remaja Papua bernama Arnold (dimainkan oleh aktor Papua, Octavianus R Muabuay) yang jatuh cinta pada seorang perempuan yang datang dari Jakarta yang dimainkan oleh Lulu Tobing (bintang sinetron terkenal kala itu). Ayah Arnold adalah aktivis pergerakan Papua yang ingin melepaskan Papua dari ikatan negara kesatuan Republik Indonesia.

Meski dipenuhi dengan penggambaran tipikal tentang Papua (alam yang indah, ritual adat yang beraneka, suku-suku yang primitif), film ini tidak sekadar menjadikan Papua sebagai lokasi cerita tapi juga subject matter film itu sendiri. Pada tahun 2005, SET Film workshop bekerjasama dengan KPAD Papua memproduksi film berjudul Mencari Madonna. Film yang terinspirasi dan dimaksudkan sebagai kampanye HIV-AIDS, menggunakan kembali aktor laki-laki Papua dan perempuan Jawa. Film berdurasi 93 menit ini bercerita tentang Joseph (Samuel Tunya) yang berusaha melarikan diri dari kenyataan bahwa ia terjangkit AIDS. Ia bertemu pelacur dari Jawa (dimainkan oleh Clara Shinta). Pertemuan ini membawa mereka mengarungi perjalanan hidup yang baru.

Sama seperti film produksi SET lainnya, film-film ini dibuat dengan kesadaran artistik yang membuatnya gagal dicerap penonton umum. Dalam film-film ini, orang-orang Papua digambarkan memiliki ikatan yang kuat dengan persoalan masyarakatnya. Film Mencari Madonna bisa dikatakan secara keras mengkritik kebiasaan orang Papua, yakni mabuk-mabukan dan seks bebas yang menjadikan populasi pengidap HIV-AIDS di daerah ini merupakan tertinggi di Indonesia.

Film Aku Ingin Menciummu Sekali Saja, sebaliknya, menempatkan Papua dalam konteks politik nasional di mana Papua dilihat sebagai daerah yang bergejolak. Ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat (baca: Jakarta) merajalela. Suku-suku lokal mencoba mengorganisir diri dan melakukan perlawanan diam-diam dengan mengangkat senjata. Dengan strategi naratif yang tidak umum, film ini mengundang kontroversi dengan point of view film yang masih menempatkan Jakarta sebagai pusat.

Film Indonesia kontemporer yang mengangkat dan mengambil lokasi di Papua adalah film Denias, Senandung di Atas Awan. Film yang diproduseri oleh Ari Sihasale (mantan model dan bintang film Papua yang berkiprah di Jakarta), mendapatkan banyak penghargaan secara nasional. Film yang diangkat dari cerita nyata ini menjadikan pendidikan sebagai tema utamanya. Denias, bocah miskin di perkampungan Papua, ingin sekali bersekolah. Setelah guru di sekolah terdekatnya pulang ke Jawa, ia harus berjalan berhari-hari untuk dapat ke sekolah. Di sana, ia pun ditolak karena status ekonominya. Ia juga harus menghadapi ejekan dan kekerasan yang dilakukan Noel, anak kepala suku Moni. Dengan usaha keras dan pertolongan ibu Gembala, seorang guru dari Jawa, ia akhirnya berhasil diterima di sekolah.

Film yang mengharukan ini didekati dengan naratif drama populer sehingga tidak heran, film ini relatif banyak ditonton. Tidak seperti film-film yang pernah dibuat tentang Papua, film ini menyajikan gambaran yang ‘sedikit’ berbeda tentang orang lokal Papua, yakni seorang (anak) Papua yang sedemikian ingin sekolah. Oleh karena itu, film ini dipilih karena menyajikan problem yang menarik tentang representasi, terkait isu rasisme dan stereotip etnis. Apakah dengan menampilkan orang Papua yang bersifat tidak mengancam seperti ini, film ini telah merepresentasikan ‚orang Papua’ dengan positif?

Adakah representasi etnis Papua selain sebagai suku primitif, dengan kulitnya yang legam yang tak ditutupi oleh pakaian, melaksanakan ritual-ritual ‘liar’ sebagai sesuatu yang lain yang melawan representasi arus utama?

Ras dan Representasi

Tulisan ini akan menggunakan beberapa konsep dalam menganalisis hubungan ras dalam film Denias, Senandung di Atas Awan. Pertama, representasi. Bagi Stuart Hall, representasi mengacu pada proses produksi makna melalui bahasa. Merepresentasikan berarti menggambarkan/mendeskripsikan sesuatu. Kata-kata, imaji, atau tanda-tanda tertentu merepresentasikan konsep tentang sesuatu. Dalam representasi ada 2 proses yang bekerja. Pertama, sistem di mana semua obyek, manusia dan peristiwa dihubungkan dengan satu konsep atau representasi mental. Tanpa konsep-konsep itu, kita tidak bisa menginterpretasi segala sesuatu di dunia. Jadi pemaknaan atas dunia sangat tergantung pada sistem konsep dan gambaran yang terbentuk/yang kita bawa.

Sistem representasi terdiri dari berbagai cara yang berbeda dalam mengorganisir, mengelompokkan, menyusun dan mengklasifikasi konsep-konsep yang telah kita miliki. Proses ini hanya bisa dilakukan apabila kita bisa saling mempertukarkan konsep dan pemaknaan. Dan kita hanya bisa melakukannya kalau kita memiliki akses pada bahasa yang sama. Di sinilah, bahasa merupakan sistem representasi kedua karena dengan bahasalah kita mengkonstruksi makna atas dunia.

Bahasa ini berwujud kata-kata, tulisan, atau citraan visual, yang disebut tanda. Tanda inilah yang mewakili konsep dan hubungan konseptual antartanda itu yang menyusun sistem pemaknaan kita. Di sinilah, film sebagai bahasa memberikan tanda-tanda tempat makna diproduksi. Singkatnya, citraan visual dalam film merupakan konsep-konsep yang akan dipertukarkan dalam proses representasi. Proses ini melibatkan pembuat film dan penontonnya.

Dalam proses representasi ini kemudian muncullah beberapa teori representasi. Pertama, pendekatan reflektif. Dalam pendekatan ini, bahasa (termasuk di dalamnya film) merupakan cermin. Jadi ia merefleksikan makna sesungguhnya dari apa yang benar-benar terjadi di dunia nyata. Teori kedua menyatakan bahwa pembuat (film) adalah pihak yang memberikan pemaknaan pada dunia melalui bahasa yang ia gunakan. Pendekatan ini disebut intensional (bertujuan). Pendekatan ketiga menyatakan bahwa kita semua mengkonstruksi pemaknaan menggunakan sistem representasi. Pendekatan yang disebut konstruksionis ini membedakan dunia material (yang terlihat) dan praktik simbolis serta proses di mana represntasi, pemaknaan dan bahasa beroperasi. Menurut pendekatan ini, bukanlah dunia material yang menggambarkan makna, tetapi sistem bahasa yang kita pakailah yang mendefinisikan pemaknaan kita. Jadi, makna diproduksi oleh sebuah praktik, sebuah kerja representasi.

Dari teori yang ketiga ini, representasi merupakan penunjukan identitas tertentu (dalam hal ini, suku, ras, agama, seksual) yang merupakan hasil konstruksi sosial. Representasi bukanlah cermin maupun distorsi dari ‘apa yang dianggap benar’ karena ‘apa yang dianggap benar’ selalu bersifat tidak stabil. Oleh karena itu, representasi tidak bisa diukur akurasinya.

Meski demikian, representasi selalu bekerja dalam dua operasi: inklusi dan eksklusi. Atribusi sifat-sifat negatif (stereotip) selalu dilakukan dalam operasi eksklusi. Pihak-pihak yang terkena stereotip adalah pihak-pihak yang dieksklusi dari ‘mayoritas’ atau normal. Di sini, proses representasi membedakan ‘kita’ dan ‘mereka’, dengan ‘mereka’ adalah pihak-pihak yang kita eksklusi.

Dalam konteks representasi ras, muncul istilah rasisme. Meminjam definisi Albert Memmi, rasisme didefinisikan sebagai generalisasi dan pemberian label final pada pembedaan yang imajiner dan nyata demi kepentingan pihak yang memberi label dan merugikan korbannya. Pemberian label ini bertujuan untuk membenarkan hak istimewa atau agresi sang pemberi label.

Franz Fanon dalam berbagai tulisannya menganggap rasisme merupakan warisan dari sistem kolonial. Bangsa-bangsa Eropa yang sejak abad 18 telah menjajah bagian lain dari bumi adalah pelaku rasisme yang paling parah, yang terjadi hingga kini. Menurutnya, dunia para penjajah dihidupkan oleh kekerasan, baik secara langsung seperti pemisahan antara sekolah untuk kaum penjajah dan orang lokal, pendirian barak militer dan polisi, maupun secara tidak langsung. Misalnya, nilai bahwa penjajah adalah satu-satunya pihak yang memegang nilai terbaik. Mereka adalah orang terbaik, sementara nilai orang asli tidak penting.

Di negara-negara kapitalis (Eropa dan negara penjajah lainnya), metode opresi (penindasan) terjadi secara tidak langsung, yakni melalui pendidikan dan aturan moral. Sementara di dunia kolonial, keadaan berbeda. Di masyarakat kolonial, kelas yang berkuasa adalah bangsa asing dan perbedaan rasial menjadi dasar dari perbedaan kelas dan ekonomi, baik secara fisik maupun secara psikologis.

Denias: Naratif

Bagaimana dengan kasus film Indonesia? Dalam kasus film Denias, Senandung di Atas Awan, representasi suku asli Papua menyajiikan sebuah tipikal yang menarik. Hubungannya dengan naratif film yang secara politis berhubungan dengan pembentukan negara-bangsa terlihat begitu menonjol.

Adegan film ini dibuka dengan gambar landskap desa Arwanope tempat Denias tinggal. Shot landskap disusul dengan penggambaran upacara pemasangan koteka terhadap Denias dan teman-teman sebayanya. Upacara ini menandai dan menjadi pintu masuk cerita dalam memperkenalkan Denias, seorang bocah laki-laki berumur 11 tahun anggota masyarakat suku Moni di pegunungan Papua. Bersama teman-teman sebayanya, Denias kemudian berburu kuskus di hutan hingga mereka bertemu dengan Suwanggi. Suwanggi bisa dibilang roh yang menakut-nakuti anak-anak nakal yang suka berburu kuskus.

Denias memang hidup di daerah pegunungan dengan hutan belantara menjadi teman akrabnya. Selain berburu, setiap hari Denias juga pergi ke sekolah. Tidak seperti sekolah-sekolah di Jawa, sekolah Denias adalah bangunan non-permanen yang didirikan oleh tentara Indonesia untuk mengajari anak-anak Papua untuk menulis, membaca, dan menghitung. Bukan hanya itu, sekolah yang hanya memiliki satu guru ini juga bermaksud mengajari anak-anak Papua tentang hidup yang baik. Kerap kali teman-teman Denias dipukul karena berkelahi atau melakukan hal-hal tidak sopan lainnya.

Di sekolah inilah, Denias selalu dipukul oleh Noel, anak kepala suku. Noel digambarkan sebagai anak yang sok kuasa, suka berkelahi, dan tidak pintar di sekolah. Sebaliknya, Denias selalu mendapat perlindungan gurunya karena ia pintar dan tidak liar. Selain dekat dengan gurunya, Denias juga dekat dengan Maleo, seorang militer yang ditempatkan di daerah Denias. Digambarkan dalam film ini, Maleo adalah seorang militer yang baik dan mendidik, yang pada saat guru sekolah Denias pulang ke Jawa, ia berinisiatif menggantikannya.

Tetapi Maleo ternyata harus melayani panggilan tugas ke daerah lain sehingga Denias dan teman-temannya tidak bisa bersekolah lagi. Di sisi lain, ibu Denias meninggal karena kebakaran sehingga membuat Denias semakin sedih. Tapi kemudian atas petunjuk Maleo, Denias pergi ke kota, ke sekolah fasilitas di mana ia bisa meneruskan sekolahnya. Tapi apa mau dikata, sekolah fasilitas ternyata hanya melayani anak-anak orang kaya dan anak-anak berpengaruh lainnya di daerah sekolah itu. Denias bertemu lagi Noel dan ia dianiaya habis-habisan di asrama, tempat ia menunggu keputusan dari sekolah apakah bisa diterima atau tidak.

Sewaktu datang ke sekolah fasilitas, ia berteman baik dengan Enos, murid yang DO dari sekolah dan memilih duduk-duduk serta mencuri makanan dari pengunjung supermarket. Bersama Enoslah,akhirnya Denias mendapatkan buah dari kesabaran dan ketabahannya, yakni bisa bersekolah di sekolah fasilitas, atas perjuangan terutama Ibu Gembala, guru sekolah yang masih muda dan idealis. Film pun ditutup adegan di mana Denias dan teman-temannya berlari gembira dengan seragam merah putih.

Merepresentasikan Liyan

Film ini dibuat untuk memperkenalkan Papua, demikian Ari Sihasale menyatakan. Oleh karena itu, sejak awal film, adegan-adegan yang dipakai adalah adegan yang banyak muncul dalam benak orang Indonesia tentang Papua:gambaran orang Papua berkulit hitam dengan ritual-ritualnya yang primitif dan aneh. Film ini dibuka dengan adegan pemasangan koteka oleh suku Moni. Dalam adegan ini, tubuh-tubuh orang Papua yang hitam, dihiasi dengan bulu-bulu dan perangkat adat lainnya menjadi gambaran dominan di layar. Beberapa tubuh dan hiasan tubuh mendapat close-up.

Shot upacara ini akan disusul dengan shot-shot lain yang berhubungan dengan ritual tradisional suku Moni. Selain pemunculan Suwanggi pada adegan perburuan kuskus, ritual dan kepercayaan pada kekuatan alam dan roh akan muncul kembali dalam adegan ketika ibu Denias meninggal. Ketika ibu Denias meninggal, keluarga Denias mengadakan upacara berkabung dengan memotong jari dan mandi Lumpur. Shot upacara berkabung ini memakan waktu yang cukup lama yang cukup membuatnya tampak mengerikan. Adegan pemotongan jari ini seperti menampakkan sifat liar dan primitif suku Moni.

Dalam adegan-adegan ini, bahkan seluruh film, sinematografi bisa dibilang merupakan hal dominan. Sejak awal mula, sinematografi berperan menggambarkan keindahan dan ‚keaslian’ orang-orang Papua maupun lanskapnya. Dengan cara ini, sinematografi film fiksi ini mengambil cara-cara etnografi dalam menggambarkan suku-suku ‚terasing’, lengkap dengan baju-bajunya yang khas, upacara adatnya yang asli, dan orang-orangnya yang eksotis. Papua digambarkan sebagai orang-orang yang hidup di luar peradaban modern dengan cara hidup berburu, di antara hutan-hutan dan padang belantara yang menampakkan keaslian panorama yang indah. Di sini, manusia-manusia Papua digambarkan menjadi bagian dan sama dengan lanskapnya: eksotis, perawan, barbar, belum teradabkan.

Perlakukan kamera film ini terhadap orang-orang Papua sama dengan perlakuan orang-orang Eropa terhadap suku-suku asli Afrika. Orang-orang dan lanskap indah ini dijadikan apa yang disebut Jan Nederveen Pieterse (1992) sebagai obyek visual. Obyek visual ilni masuk dalam apa yang disebut tontonan (spectacle) karena di sini, film mengubah suatu benda menjadi pertunjukan visual yang penuh dengan tanda dan simbol-simbol.

Tubuh hitam orang Papua dengan segala perniknya menjadi diskursus visual. Seperti yang diungkapkan Hall,

….The body itself and its differences were visible for all to see, and thus provided ‘the incontrovertible evidence’for a naturalization of racial difference. The representation of ‘difference’ through the body became the discursive site through which much of this ‘racialized knowledge’ was produced and circulated…….

(Tubuh itu sendiri dan perbedaanya sangat bisa dilihat dan oleh sebab itu menyediakan bukti tak terbantahkan dari alaminya perbedaan ras. Representasi perbedaan lewat tubuh menjadi situs diskursif dengan mana pengetahuan terasialis diproduksi dan disirkulasikan……)

Naturalisasi perbedaan menjadi alami dalam bentuk tubuh, warna kulit, bentuk rambut dan lain-lain. Dengan cara inilah, naturalisasi membuat pembedaan menjadi sesuatu yang bisa diterima, permanent, dan tidak bisa diubah. Rezim representasi seperti ini selalu mereduksi kebudayaan orang Papua sebagai alami.

Gaya sinematografi yang demikian, merupakan strategi naratif yang diambil film. Bekerja dalam konvensi drama, film ini menggunakan strategi naratif di mana lanskap menduduki posisi penting. Denias selalu ditampilkan dengan latar belakang alam dan sukunya. Ia tak dilepaskan dari unsur-unsur ini.

Dalam naratif drama, konflik dibangun atas representasi positif dan negatif. Kesimpulan ini dengan mudah bisa kita ambil ketika anak-anak di sekolah pegunungan senang menyaksikan adegan perkelahian Noel dan Denias. Mungkin sebenarnya semua anak di Indonesia suka dengan adegan seperti itu, tetapi terlihat bahwa perkelahian ini digunakan oleh film sebagai elemen naratif yang membedakan dua karakter. Denias sebagai protagonis adalah seorang anak Papua baik-baik yang ingin sekolah dengan baik, sementara Noel adalah seorang pembuat onar, anak kepala suku yang selalu ingin bikin ribut. Bahkan dalam adegan-adegan awal, anak-anak yang sebenarnya tidak terlalu kelihatan barbar ini harus dihukum dengan pukul setiap kali melakukan kesalahan.

Di sini terlihat bahwa representasi bekerja dalam bentuk oposisi biner. Papua digambarkan baik, beradab, menarik di satu sisi, dan jahat, primitif, dan suka berkelahi di sisi lain. Oposisi jahat-baik ini penting untuk setiap jenis klasifikasi, karena untuk bisa mengklasifikasi, kita harus menentukan perbedaan yang jelas di antara hal-hal yang ingin diklasifikasi. Penetapan setiap kategori dengan sifatnya yang baku dan berterima inilah kunci dari penegakan tatanan sosial.

Cara lain untuk menegakkan rezim representasi yang rasis adalah mengidealisasi dan mensentimentalisasi karakter tertentu. Representasi ini justru tidak menunjukkan serangan terhadap satu ras, tapi tetap menggunakan stereotipnya. Dalam film Denias, representasi ini muncul secara jelas dalam karakter Denias. Sebagai anak suku Papua (dan oleh karena itu, sama seperti sesamanya yang berkulit hitam dan liar), Denias justru memiliki cita-cita ideal untuk sekolah. Bukan sebuah kebetulan bahwa satu-satunya motivasi yang menggerakkan perjuangan Denias adalah keinginan untuk sekolah. Di sini, sekolah harus dilihat bukan dalam konteks ia memberikan apa yang dibutuhkan Denias, yakni pendidikan, tapi sekolah dalam film ini memberikan gambaran yang konsisten dengan representasi karakter Papua yang diinginkan pembuat film, yakni peradaban. Sekolah adalah peradaban. Dengan sekolah dan pendidikan modern, segala keprimitifan, keliaran suku-suku Papua menghilang.

Representasi ini mengikuti apa yang oleh Bogle disebut karakter Tom –orang Negro yang baik hati, bercita-cita mulai, dianiaya, disakiti dan dilecehkan, religius, tidak pernah melawan, dan stoik. Bukan kebetulan bahwa cita-cita Denias adalah bersekolah. Bagi Gramsci dan Foucault, sekolah adalah aparatus ideologi. Sekolah menjadi tempat di mana kuasa merembes. Sekolah merupakan tempat dimana grup dominan di dalam masyarakat, melalui proses intelektual dan kepemimpinan moral, memenangkan dukungan grup marginal dalam masyarakat. Sekolah menjadikan anak didik menjadi bagian penting dari sistem dominan. Dalam konteks film ini, sekolah atau pendidikan menjadi aparatus naratif yang efektif.

Point of view film yang menggunakan Denias, seorang Papua yang ‚berbeda’ dengan teman sebangsanya karena ia ingin masuk dalam tatanan modern bernama sekolah, menjadikan film ini mengambil preferred reading bahwa keliaran dan keprimitifan suku Papua bisa ditundukkan lewat pendidikan atau sekolah modern.

Maka bukanlah hal yang mengherankan di antara teman-temannya, Denias adalah anak yang paling dekat dengan ‚modernisme’ sekolah, yakni gurunya di sekolah setempat dan Maleo (militer). Dia pula yang paling menerima dan memegang teguh ide abstrak tentang negara-bangsa Indonesia sebagai pihak yang mengadakan sekolah.

Tetapi darimana cara pandang pembuat film ini berasal? Apakah secara inheren orang-orang Indonesia telah menganggap Papua sebagai liyan? Bagaimana cara pandang yang stereotip dan eksotis ini menjadi pandangan film Denias, Senandung di Atas Awan?

Seperti yang diungkapkan Fanon, rasialisme selalu berakar dari hubungan kolonial. Dalam kasus Indonesia, penampilan dan representasi orang-orang Papua dalam film telah dimulai oleh para pembuat film dokumenter Belanda yang telah bekerja di awal-awal abad 19. Film-film dokumenter awal yang dibuat oleh orang-orang seperti Willy Mullens, M.H.Metman, dan Kruegers, memperlihatkan potret-potret bangsa pribumi, lengkap dengan upacara-upacara ganjil dan penyakit cacar serta pesnya. Film-film yang lebih pantas disebut showreel itu, dibuat oleh para pembuat film Belanda dalam sebuah ekspedisi mengenai ‘tanah jajahan’. Film-film ini menampilkan keadaan alam tropis, hewan liar, keadaan pribumi, adat-istiadat, dan obyek-obyek aneh lainnya dari daerah Timur (Papua dan Flores).

Film-film ini menggambarkan ‘bagaimana Barat memandang Timur’, bagaimana ‘bangsa kulit putih’ yang memiliki sejarah sebagai kolonialis memandang ‘bangsa-bangsa non-kulit putih’ yang kebanyakan memiliki sejarah sebagai daerah jajahan.

Dalam memandang bangsa-bangsa di luar kulit putih, bangsa kulit putih ‘takut mengakui bahwa bangsa-bangsa non-kulit putih mampu melakukan hal yang lebih baik dari dirinya’. Orang-orang di luar ras kulit putih digambarkan sebagai obyek. Mereka diisolasi dari lingkungannya dan disajikan dengan ‘schematic fashion’ alias tata cara keindahan a la mata kolonialis. Liyan ditegaskan dengan penempatan karakter di latar depan (dengan latar belakang landscape yang indah).

Cara ini juga menempatkan karakter sebagai obyek yang bisa dilihat dan bisa dikontrol. Masih menurut Pieterse, ke-liyan-an ditempatkan dalam konvensi estetika Victorian..

Ia menyatakan,

Knowing the colonized is one of the fundamental forms of control and possession. One of the applications of this knowledge is that the subjected peoples are turned into visual objects. This knowledge circulates by means of images – the availability of ethnological images in scientific, esthetic or popular form is one of the basic features of imperial cultures. In colonial ethnography the colonized were turned into objects of knowledge, in the colonial exhibit they were turned into spectacles.”

(Mengetahui pihak yang dijajah adalah bentuk dasar pengendalian dan kepemilikian. Salah satu praktik pengetahuan ini adalah orang yang disubyektifikasi diubah menjadi obyek visual. Pengetahuan ini disebarkan melalui citraan –ketersediaan citraan etnologis dalam bentuk yang ilmiah, estetik (seni) dan populer merupakan salah satu ciri kebudayan penjajah. Dalam etnografi kolonial, kaum yang terjajah diubah menjadi obyek pengetahuan, dalam pameran kolonial, mereka diubah menjadi sebentuk tontonan).

Pandangan kolonial ini kemudian diserap oleh bangsa bekas jajahannya, Indonesia. Bagi Fanon, setelah nasionalisme terbentuk dan suatu bangsa merdeka dari penjajahnya, kekerasan masih tersisa. Negara-negara kolonial melalui kapitalisme ekonomi mempertahankan ketergantungan dan sistem politik masyarakat di negara pasca-kolonial karena hanya dengan inilah, kapitalisme Barat bisa bertahan. Dalam konteks Indonesia, formasi sosial dan politik pasca-kolonial tetap dipertahankan, terutama pada zaman Orde Baru.

Denias dan Negara-Bangsa Indonesia

Denias mungkin tidak pernah ikut berjuang melawan Belanda, apalagi mempertahankannya dalam perang revolusi 1945. Tetapi sebagai aparat pendidikan modern (baca:sekolah), ia adalah ‘alat’ paling modern dari propaganda negara-bangsa ini. Meski tidak mencoba untuk menjadi film politik atau secara eksplisit membicarakannya dalam dialog film, film ini mengandung agenda nasional yang hampir membuatnya menjadi seperti film propaganda Orde Baru.

Dengan tesis sederhana, seorang bocah Papua yang ingin sekolah, film ini menggunakan ide-ide nasional sebagai basis kepercayaan. Sejak awal, film ini bukanlah tanpa sengaja menggunakan lokasi film di pegunungan Papua. Diangkat dari kisah nyata, lokasi film merupakan mise en scene yang menampilkan tampakan ideologis dari filmnya. Selain jauh dari akses pendidikan, daerah pegunungan memberikan kesenangan visual karena keindahannya.

Meski kemudian terlihat bahwa kesenangan visual ini harus ditebus dengan pilihan ideologis yang mengecewakan. Sejak awal, film ini secara kasar menggunakan cinematic tools, seperti bendera merah putih, gambar jenderal militer, dan kepulauan Indonesia, bahkan militer memiliki porsi yang luar biasa di dalam film.
Selain secara jelas nampak dalam karakter film, militer muncul sebagai tokoh baik yang mengajari anak-anak Papua dalam sistem sekolah modern. Bahkan ada satu adegan , di mana anak-anak Papua yang suka berkelahi dihukum secara fisik oleh gurunya –yang militer—dengan latar belakang bendera merah putih.

Pada kenyataannya, jauh dari keindahan pegunungan yang fenomenal itu, kawasan pegunungan di Papua sebenarnya mengalami persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar miskinnya akses penduduk ke pendidikan modern. Menurut laporan Human Rights Watch, wilayah pegunungan/dataran tinggi Papua (termasuk di dalamnya Kabupaten Jayawijaya, Puncak Jaya, Mimika, Tolikara, Yahukimo, Pegunungan Bintan dan Paniai) telah lama menjadi wilayah konfrontasi antara militer dan polisi Indonesia dengan sel-sel kecil Organisasi Papua Merdeka (OPM), sebuah organisasi politik bawah tanah yang didirikan sejak tahun 1965. Organisasi rahasia ini telah berulang kali melakukan serangan terhadap instalasi militer Indonesia, sementara militer Indonesia dengan gencar melakukan sweeping hingga ke daerah-daerah paling terpencil untuk memberantas kaum yang disebut pemberontak ini. Sweeping yang dilakukan TNI tidak jarang disertai penjarahan, perusakan barang milik penduduk setempat bahkan tindak kekerasan hingga pemerkosaan dan pembunuhan terhadap rakyat sipil. Menurut laporan terbaru HRW, pengawasan militer untuk daerah dataran tinggi Papua jauh lebih intensif dari daerah-daerah lain di Papua.

Sejak 2005, berbagai organisai hak asasi manusia melaporkan terjadinya 13 pembunuhan di luar hokum terhadap penduduk sipil dataran tinggi Papua. Semua kasus melibatkan militer dan polisi Indonesia. 2 perkosaan yang menimpa perempuan Papua dilakukan oleh seorang anggota Brimob dan seorang anak tentara (TNI).

Selama tahun 2005, militer Indonesia mengadakan sweeping besar-besaran untuk menangkap aktivis OPM di dataran tinggi Papua, menyebabkan ribuan penduduk Papua mengungsi ke pegunungan. Banyak dari mereka meninggal di pengungsian karena penyakit malaria dan kekurangan makan. Anak-anak pun tidak mendapatkan akses pendidikan yang memadai.

Sejak tahun 1980-an, pemerintah Orde Baru melaksanakan program transmigrasi dengan memindahkan orang-orang miskin dari Jawa ke pulau-pulau sepi penduduk antara lain Papua. Proses ini dan proses migrasi alami telah mengubah komposisi demografis Papua. Banyak tanah-tanah milik kaum adat diminta pemerintah untuk dipakai sendiri atau diberikan kepada para transmigran ini.. Pada tahun 1981, pemerintah melaksanakan operasi Sapu Bersih untuk merampas tanah-tanah miliki penduduk asli (indigenous people). Warga asli Papua semakin termarjinalkan dan mengungsi ke gunung-gunung. Akses ke pendidikan dan pekerjaan pun semakin rendah, bila dibandingkan kaum pendatang.

Persoalan-persoalan inilah yang membuat sentimen anti-Indonesia semakin besar di Papua. Dan militer Indonesia adalah apparatus koersi yang paling nampak dan paling dimusuhi –sebagian besar— warga Papua. Lalu bagaimana menilai film ini dalam konteks politik Papua yang demikian?

Di tataran produksi, film ini tidak akan pernah terwujud tanpa bantuan, atau setidaknya ‚izin’ dari tentara. Tidak ada satu pun kegiatan turisme terutama turisme asing dan produksi film di Papua berlangsung tanpa izin dari markas besar TNI. Maka tak mudah bagi tim produksi film ini untuk tidak memperlihatkan skenario atau gagasan besar film ini kepada petinggi-petinggi keamanan di Papua.

Dengan tingginya sensor ‚tak resmi’ seperti ini, tak akan mungkin bagi pembuat film untuk menunjukkan hal-hal yang menyerang tentara apalagi keberadaannya di Papua. Dan sayangnya, film ini berhasil mengintegrasikan propaganda tentara itu dengan sangat baik. Sejak awal, film secara konsisten menggambarkan bahwa nilai-nilai baik adalah milik militer dan orang-orang non-Papua. Pada menit ke-7, adegan menampilkan sekolah Denias lengkap dengan bendera merah putihnya. Adegan ini disusul dengan adegan dialog Maleo dan Denias di markas Maleo. Maleo adalah militer yang ditempatkan di daerah Denias dengan tugas utama, seperti yang terlihat dari laporan Human Rights Watch adalah mengawasi aktivitas penduduk setempat.

Di rumah Maleo, Denias belajar menyusun kepulauan Indonesia dengan dialog seperti ini,

MALEO

Ini Aceh, adanya di Sumatra.

DENIAS

Kalau kita ada di pulau mana, Maleo? Di sinikah?

MALEO

Bukan, bukan. Kalau ini Kalimantan. Kita ada di sini, di Pulau Papua…. Jadi susunannya, ini Sumatra, Jawa, ini Kalimantan, ini Sulawesi dan ini Papua. Susunannya harus begini. (garis miring dan cetak tebal dari penulis)

DENIAS

Indonesia….(menyanyikan lagu Indonesia Raya).

Dalama adegan di honainya, Denias menunjukkan Indonesia ini kepada bapak dan keluarganya. Adegan ini tak lepas dari adegan pembagian seragam oleh Maleo yang ditanggapi dengan ucapan terimakasih Denias, serta adegan akhir film di mana Indonesia Raya kembali dinyanyikan sementara anak-anak mengenakan seragam merah putih (serta, Denias mulai berdoa!!!).

Adegan ini mengacu pada praktik politik dan budaya yang telah dilaksanakan Orde Baru semenjak awal kekuasaannya di tahun 1966. Dengan penekanan pada Pancasila serta semboyan Bhinneka Tunggal Ika, Orde Baru mencoba menjinakkan perbedaan dengan menjadikannya sebuah retorika nasional yang kosong. Orde Baru menganggap bahwa perbedaan, baik ras, etnis, agama, maupun kelas sosial adalah sesuatu yang tidak pantas dikemukakan karena akan mengguncang tatanan dominan negara dan bangsa Indonesia (alih-alih mengkhianati nasionalisme). Maka tak heran, isu-isu perbedaan ras, etnis, agama, apalagi kelas sosial akan digunting oleh mesin sensor ketika muncul di media film.

Maka analisis Foucault bahwa film merupakan mekanisme terbaik untuk menciptakan politik yang tertata (ordered politic) adalah tepat. Menurut Foucault, ada 3 teknik utama kontrol, yakni observasi/pengawasan yang bersifat hirarkis, normalisasi dan ujian. Ketiga aspek inilah dasar dari kekuasaan modern. Film Denias, Senandung di Atas Awan yang mencoba mengangkat perjuangan anak Papua untuk masuk dalam sistem modern bernama sekolah mengandung dalam dirinya fungsi disiplin yang juga muncul dalam film-film propaganda Orde Baru. Selain bekerja dalam stereotip Papua, film ini memiliki fungsi normalisasi dan koreksi atas tingkah laku yang menyimpang.

Maka naratif dan gaya film ini yang menjadikan militer dan lambang-lambang nasional sebagai piranti visual harus dilihat dalam konteks kuasa ini. Film adalah piranti di mana rezim visual yang berdasarkan tatanan (order) dan pengawasan (surveillance) mengelompokkan apa yang termasuk normal dan tidak normal. Tanda-tanda visual di dalam film bukan hanya berfungsi sebagai cerminan hubungan dan simbol atau representasi kekuasaan, tapi juga cermin bagi subyek untuk melihat subyektivitas dan posisinya dalam konteks besar Indonesia.

Dalam konteks film Denias, tingkat pendidikan Denias yang lebih baik diharapkan dapat membuatnya mengerti tentang posisinya di tengah masyarakat Indonesia. Dengan sekolah, Denias diharapkan dapat memenuhi cita-cita Orde Baru tentang manusia Indonesia yang beradab, patuh, dan ‘normal’. ***




Bahasa Indonesia 2: Prosa Liris

A. Pengertian Prosa Liris

Prosa liris merupakan bentuk karya sastra yang berisi curahan perasaan pengarang secara subyektif yang disajikan seperti bentuk puisi, namun menggunakan bahasa yang bebas terurai seperti pada prosa

B. Ciri-ciri prosa liris

1. Terdiri dari baris-baris seperti pada puisi

2. Tidak terikat oleh baris, bait serta rima dan irama

3. Dipengaruhi oleh siapa pengarangnya

4. Isinya mengambil bahan dari kehidupan sehari-hari



RINDU KEBISUAN

Pujangga Pinggiran (sebuah Prosa Liris)

Oleh : Masril Habib

Dendang-dendang seperti membisu.

Sejauh perjalanan jiwa melukis kefanaan.

Semua yang terlihat, adalah beku dan mati.

Sendiri, dan berdiri dalam rajutan Yang Maha Perkasa,

Aku, seorang lelaki yang memiliki cinta.

Dan cerita dunia di bawah sengatan kesulitan dan kehendak.

Memiliki nasib yang tertulis dalam daun-daun layu,

ia adalah bagian semesta yang menjalar.

Di sini, menyebut nama tempat-tempat singgah.

Sumber: http://muchniart.blogspot.com/2005/09/rindu-kebisuan-sebuah-prosa-liris.html

pujangga pinggiran: CINTA ( Sebuah Prosa Liris)

CINTA

( Sebuah Prosa Liris).

Katakan kepada hidupku,

tentang cinta yang menyatukan langit dan bumi.

Katakanlah kepadaku, wahai kekasih.

Saat jiwamu kau pagari dengan kesucian.

Maka tak kan ada ruang bagi budak-budak cinta

Sumber: http://muchniart.blogspot.com/2005/09/cinta-sebuah-prosa-liris.html