Search

Memuat...

Rabu, 04 Mei 2011

IPS 1 : Mengapa Greenwich ditetapkan sebagai 0 derajat


ASAL MULA PENETAPAN GREENWICH

SEBAGAI NOL DERAJAT



Oleh: Marwi Hendrianto / 09144600188/ A2 2009



Dimanakah sesungguhnya pusat nol derajat atau lokasi perputaran bumi? Banyak orang meyakini bahwa Kota Greenwich, salah satu kota di Inggris, merupakan pusat nol derajat. Benarkah demikian?

Untuk sementara, tampaknya jawaban itu benar. Sebab, belum ada pihak-pihak yang menggantinya dengan nama baru. Greenwich dipercaya dan disepakati oleh banyak ilmuwan perbintangan (ahli astronomi) sebagai pusat nol derajat sebagai awal perhitungan waktu atau disebut Greenwich Mean Time (GMT) pada 1884.

Penetapan Kota Greenwich sebagai mula perhitungan waktu, menurut geolog Mesir Dr Zaglur Najjar yang juga dosen ilmu bumi di Wales University, Inggris, tidak terlepas dari pengaruh Inggris pada kala itu yang merupakan kekuatan kolonial super power dunia.

Pada masa itu, hampir semua wilayah di dunia ini berada di bawah kekuasaan Inggris. Pengaruh Inggris terhadap negara-negara bekas jajahannya hingga kini bisa dilihat dengan adanya perkumpulan negara-negara persemakmuran Inggris (Commonwealth).

Dari Greenwich-lah, bumi dibagi menjadi garis-garis bujur imajiner. Setiap 15 derajat sama dengan satu jam. Dan, setiap 15 derajat dari sana dihitung berbeda satu jam dalam hitungan 24 jam. Perhitungan hari dan penanggalan internasional pun bermula dari bujur yang berjarak 180 derajat dari Greenwich.

Perbedaan waktu setiap belahan bumi juga bisa dihitung berdasarkan posisi kita di garis bujur. Karena satu putaran bumi itu memakan waktu 24 jam, perbedaan waktu satu jam adalah pada 360 derajat/24 = 15 derajat garis bujur. Artinya, setiap tempat yang memiliki perbedaan posisi bujur sebesar 15 derajat akan memiliki perbedaan waktu satu jam. Inilah pembagian zona yang dirintis oleh orang Kanada, Sir Stanford Fleming (1827-1915).

Sebagai contoh, Indonesia dari Greenwich terletak di 95 derajat bujur timur (BT) sampai 141 derajat BT. Jika dihitung dari garis nol derajat (Greenwich), posisi di 95 derajat BT ini memiliki perbedaan waktu sebanyak 95 derajat/15 derajat = tujuh jam lebih awal dari waktu di Greenwich. Jika di London tepat tengah malam, di Jakarta adalah sudah pukul 7 pagi atau bisa juga disebut saat itu waktu di Jakarta adalah pukul 0 GMT.

Akibat posisi Indonesia yang terbentang dari 95 derajat BT hingga 141 derajat BT, Indonesia pun terbagi menjadi tiga zona waktu yang masing-masing berbeda satu jam. Yaitu, Waktu Indonesia bagian Barat (WIB), Waktu Indonesai bagian Tengah (WITA), dan Waktu Indonesia bagian Timur (WIT).

Namun, kadang ada negara yang tetap menggunakan patokan waktu berdasarkan kepentingannya. Misalnya, Singapura. Negara ini secara geografis masuk dalam wilayah Indonesia bagian barat, namun perhitungan waktunya adalah mengikuti aturan Indonesia bagian tengah. Hal ini disebabkan Singapura menyesuaikan zona waktu dengan Hongkong demi keseragaman waktu perekonomiannya. Negara Cina yang terbentang begitu luas sehingga seharusnya memiliki lebih dari empat zona waktu malah lebih memilih satu zona waktu saja.

Sejarah GMT

Penetapan Greenwich sebagai standar waktu dunia tidak bisa dipisahkan dari munculnya persoalan pengaturan standar waktu dunia ketika teknologi Kereta Api makin berkembang. Jaringan kereta Api di AS dan Canada di akhir abad 19 merasakan persoalan tersebut, ketika kereta melalui berbagai waktu lokal dalam jarak tempuh -melintasi garis bujur- yang cukup lebar. Ticket yang dipesan di kota A mesti mencantumkan kapan waktu berangkat dan waktu tiba di kota B, menurut standar waktu apa, jika setiap kota memiliki waktu lokal masing-masing ?

Sir Sandford Fleming, seorang insinyur kereta api dari Canada, menggagas perlunya standar waktu dunia di akhir tahun 1870. Seturut dengan inisiatif tersebut, pada th 1884 terselenggara Konferensi Meredian yang bertempat di Washington DC dan di hadiri 27 utusan dari berbagai negara. Dalam pertemuan tersebut diputuskan, negara dibagi dalam 24 zona waktu, setiap zona selebar 15ยบ bujur bumi dimulai dari Greenwich di England.

Mengapa Greenwich ?

Penetapan Greenwich Mean Time (GMT) tidak lepas dari sejarah ditetapkan kota tersebut oleh Royal Observatory pada tahun 1675 untuk keperluan navigasi pelayaran kerajaan Inggris. Belum ada keterangan, apakah negara-negara lain diluar Inggris saat itu juga menggunakan waktu standar ala Britania raya. Seiring dengan penguasaan laut oleh kerajaan Inggris, standar waktu dunia mulai menyebar dan dipakai di beberapa negara. Namun demikian, kebutuhan mendesak perlunya standar waktu dunia, termasuk di Inggris juga berangkat dari berkembangnya jaringan Kereta Api.

Penggantian pusat nol derajat dari Greenwich ke Mekkah

Kemungkinan Mekkah menjadi pusat standar waktu dunia menggantikan Greenwich belakangan ini menjadi obrolan populer di media maya. Salah satu artikel yang banyak dikutip diambil dari situs eramuslim http://bit.ly/b8R1Ab. Majalah TIME menuliskan kemungkinan tersebut http://bit.ly/ccwzQS. Alasan utama : daerah tersebut adalah ”zero-magnetism zone”. Beberapa pendapat pendukung berangkat dari argumen agama, tidak saya komentari, karena cukup sensitif.

Pertanyaan: mengapa GMT mesti diganti/ dipindah, apakah ada persoalan selama ini sehingga memerlukan penggantian/ penyesuaian ? jawaban yang pasti sebenarnya sulit ditemukan. Beberapa artikel sejenis umumnya diwarnai semangat keagamaan berlebihan dibanding argumen terukur persoalan riil tersebut. Pendapat di video ini memiliki argumen kesehatan publik yang cukup menarik berkaitan dengan medan magnet bumi, tapi apa relevansinya dengan penetapan waktu Mekkah

Namun pertanyaan ini perlu diajukan. Karena standar waktu dunia sudah diterima luas dan sejauh ini tampaknya tidak ada persoalan yang cukup serius dengan ketetapan yang ada. Jadi, benarkah ada persoalan yang tak terpecahkan sehingga kota penetapan garis longitudinal derajad perlu digeser ?

Penggantian standar waktu dunia jelas lebih kompleks dari sekedar gagasan redenominasi mata uang rupiah. Persoalan ini akan menjadi peristiwa dunia, karena skalanya memang dunia. Semua ketetapan waktu yang sudah berjalan dimanapun sampai ke kolong bumi, akan berubah. Tidak bisa dicicil atau ditunda, mesti serempak. Kontan.

Waktu lokal masih berjalan seperti bias. Kita akan melihat matahari tetap terbit kl pukul 06.00 waktu setempat, demikian pula tenggelammnya. Jarak waktu antara satu tempat lain tetap sama, dihitung, kecuali di bagian pergantian waktu dimana terpengaruh dengan pergantian hari.

Secara umum, mungkin standar waktu dunia hanya berpengaruh pada penentuan tanggalan, penyesuaian waktu kerja dan hal-hal lain yang tampaknya tidak terlalu penting. Namun bagi dunia perbankan, penerbangan, sistem komunikasi & navigasi yang bersandar pada universal time, serta terutama piranti-piranti digital/elektrik yang terhubung secara worldwide, perubahan waktu dunia jelas bukan perkara yang mudah. Perubahan waktu tersebut tidak cukup dengan memutar jarum pendek dan jarum panjang, atau memencet-mencet tombol arloji digital. Pada berapa kasus, perubahan tersebut perlu diselaraskan oleh para pengembangn aplikasi. Bagaimana dengan perangkat2 keras yang tertanam dan berjalan independen di remote area spt stasiun seismografi, stasiun pasang surut ? Pemantau meteorologi, curah hujan, kecepatan angin dsb.

Orang yang mengirim uang dari London ke Jakarta, pada waktu transisi memerlukan penyesuaian yang tidak sederhana. Kedua belah pihak mesti sepakat, pukul berapa transaksi terjadi dan apa yang akan terekam. Untuk yang sepele ini, programmer perbankan mesti bekerja supaya bisa “melompati” waktu pada jam-jam perubahan yang kritis dan itu tidak cukup dengan mereset waktu komputer, tapi perlu penyesuaian utk mengantisipasi adanya hari yg pendek atau panjang karena selisih 3 jam. Penerbangan antar benua memerlukan sinkronisasi waktu standar dunia, yang tidak sesederhana hanya dng menambah/mengurangi 3 jam selisih waktu Greenwich dengan Mekkah

.

Sumber belajar:

http://islamdigest.net

http://unik.kompasiana.com/2010/08/16/jika-mekkah-menggantikan-waktu-greenwich/


Tidak ada komentar: