Search

Rabu, 08 Juni 2011

Bahasa Indonesia 2: Cerpen

Keinginan dan Takdir Hidup
oleh: Eka Astra Wijayan

Sesekali Tria memandang jauh kearah barat, memperhatikan matahari yang setengah tenggelam dengan cahaya jingganya yang memukau, suara kereta api yang lalu-lalang membuat suasana semakin ramai, deretan penumpang dengan berbagai tujuan sedang menunggu waktu keberangkatan. Dan Tria hanya duduk menunggu pembeli yang datang membeli sesuatu yang mungkin mereka butuhkan saat berada dalam kereta nanti, seperti Tissue, Permen, Rokok, Antimo, serta makanan dan minuman kecil barangkali.
“ Mari Pak…Bu…Tissue-nya,..Permen …permen….rokok..rokok…Pak…mari silahkan beli.” Tawar Yon pada orang-orang yang lalu-lalang.
Hari itu, dagangan Tria hanya laku beberapa saja. Hari sudah beranjak malam, Tria melangkah keluar dari Stasiun tugu Jogja yang luas itu. Namun langkahnya terhenti ketika melihat nenek tua yang renta sedang berjongkok di ujung pintu gerbang sambil meminta-minta.
“ Maturnuwun Ngger….terima kasih…simbah seharian ini belum makan.” Kata Nenek itu ketika menerima uang pemberian dari Tria.
“ Nggih Mbah…sama-sama, hanya sedikit rezeki dari saya, semoga bermanfaat untuk simbah.” Jawab Tria.
Uang hari ini yang hanya seberapa dari hasil Tria berjualan di Stasiun Tugu, telah Ia berikan kepada Nenek peminta-minta itu. Yang tersisa sedikit hanya cukup untuk makan malam ini saja.

Matahari bersinar dengan indahnya dari ufuk timur, menembus dinding anyaman bamboo milik Tria, sebuah rumah kecil yang terletak di pinggiran JalanA.M Sangaji, seorang anak berusia 16 tahun yang harus berjung untuk hidupnya setelah ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya entah kemana. Tria bergagaas melaksanakan pekerjaanya sehari-hari, menjadi pedangan asongan. Berjalan dengan ringannya, diiringi senyum yang ramah, Sesekali Ia tampak melihat anak-anak yang memakai seragam sekolah, terlintas dibenaknya.
“Seandainya aku bisa sekolah seperti mereka.” Pandangannya lirih, perjuangannya saat ini adalah bagaimana tetap bisa bertahan hidup sebatangkara. Untuk bisa berjuang demi sesuap nasi, namun dalam hatinya, masih ada secercah harapan untuk dapat bersekolah lagi, setelah lebih dari 5 tahun Ia putus sekolah. Hampir Ia sampai di Stasiun Tugu, tepatnya menjajakan beberapa dagangannya, Ia harus berjalan cukup jauh untuk bisa sampai tempat tujuan. Semua itu Ia lakukan dengan ikhlas.
“ Pak,,,,Bu,,,Antimonya Pak,,,,Bu,,,,Aqua,,,,,Aqua,,,,,,Kacang, Susu, Permen…mari silahkan beli.” Seru Tria menjajakan barang dagangannya. Hingga beranjak siang barulah pembeli berdatangan. Hari ini dagangan lumayan laku. Tria berangkat berjualan pukul tujuh pagi dan kembali malam tak tentu, seperti itu setiap hari ia lakukan Ia harus tetap berjuang untuk tetap hidup di Jogja, sebuah kota yang cukup besar dengan penduduknya yang padat merayap. Banyak wisatawan dari dalam maupun luar negeri berdatangan mengunjungi kota Jogja dengan segenap obyek wisatanya yang tak kalah menarik dengan kota-kota lain di Indonesia. Namun, tak begitu untuk Tria, baginya kota Jogja adalah medan peperangan, dimana Ia harus terus berjuang untuk tetap bertahan hidup sebatangkara di kota yang tidak kecil itu.
“ Dek beli rokoknya satu dek.” Seru seorang pembeli dari seberang tempat duduk Tria.
“ Nggih Pak,,,,,,,,sebentar.” Tria berlari kecil menghampiri.
“ Monggo Pak,,,,,,,,mau rokok yang mana ?. “
“ Yang ini saja.” Kata pembeli itu menunjuk rokok Jarum Super.
“ Ini Pak,,,,,, sembilan ribu saja.” Tria mengulurkan rokok pada pembeli itu.
“Ini uangnya, sisanya untuk kamu saja.” Kata si pembeli itu memberikan selembar uang sepuluh ribuan.
“ Matur nuwun nggih Pak,,,,,,,,terima kasih.” Jawab Tria girang. Hari ini begitu melelahkan bagi Tria, namun demikian Ia tetap bersemangat berdagang, Ia beristrahat sejenak di sebuah lorong kecil stasiun sembari memandang anak-anak pulang sekolah yang melewati Stasiun Tugu. Tria ingin sekali seperti mereka, bisa sekolah memiliki banyak teman. Namun, apalah daya. Takdir telah membawanya seperti ini. Kalau Ia boleh memilih, tentu Ia akan memilih hidup yang layak dan bisa bersekolah. Keinginannya terkalahkan oleh takdir yang berkata lain.
“ Suatu saat aku pasti bisa sekolah, entah itu harus menunggu lama.” Gumam Tria. Lalu Ia melanjutkan perjalanannya menjajakan barang dagangannya, Ia tak bisa menolak karena inilah sumber penghidupannya.
“ Mari Bu,,,,,,,,,Pak,,,,,,,,Mas,,,,Mbak,,,,permennya, antimo, aqua, rokok-rokok,silahkan beli.” Tria menjajakan dagangannya.
“ Tria ada Upacara Grebeg Kraton besok di alun-alun Utara setelah sholat Ied, kalau berdagang disana mungkin lumayan laku.” Beri tahu salah satu teman Tria yang bekerja sebagai loper Koran.
“ Benarkah, kalau begitu besuk pagi aku akan kesana, siapa tahu rezeki-ku lebih baik.” Jawab Tria berharap.
Pacara Grebeg Kraton Yogyakarta adalah upacara rutin yang diadakan selesai sholat Ied di alun-alun. Banyak yang menyempatkan untuk menyaksikan jalannya upacara tersebut. Tria ingin mencoba peruntungan berdagang disana, siapa tahu ada penghasilan yang lebih. Tria memang tak pernah menyerah, Ia melakukan apapun dengan ikhlas walaAupun lelah. Jalan hidup yang menuntutnya seperti ini. Tak ada yang dapat dijadikan pengantung hidupnya, hanya Ia sendiri yang harus berusaha.
“ Aku ingin sekolah lagi, tapi apakah bisa.”’ Itulah kata-kata Tria yang selalu Ia upcapkan tiap kali memandang segerombolan anak sekolah. Keinginan Tria untuk bersekolah sangatlah kuat, namun situasi memaksanya tuk urungkan keinginannya bersekolah lagi. Tapi tak mustahil kalau suatu saat ada kesempatan bersekolah lagi., selama masih ada kemauan. Dan Tria percaya itu.
Pagi sekali Tria sudah bergegas menuju Alun-alun Utara yogyakarta, mengenakan celana panjang, dipadu dengan atasan lengan panjang serta tak lupa Ia mengenakan kopiah. Karena ingin sekalian mengikuti sholat Ied disana. Ia tak lelah untuk mencoba peruntungan dimanapun, karena itukah sumber rezekinya hingga Ia bisa bertahan hidup seperti sekarang ini. Hingga siang Ia masih menjajakan dagangannya. Sesekali Ia beristirahat sejenak dibawah pohon, dibawah pohon beringin yang berada ditengah lapangan alun-alun yang cukup luas itu.
“sampai kapan aku akan seperti ini, ini bukan mau-ku, bukan keinginanku, aku ingin seperti anak-anak lain pada umumnya, mempunyai orang tua yang utuh, bisa bersekolah, menikmati masa remaja,. Tapi kenapa takdir seperti ini.” Ratap Tria ketika sedang beristirahat.
Ia harus tetap berjuang, suatu saat Ia pasti dapat menuntut ilmu lagi, entah itu harus mengulang belajar dari awal lagi, karena menuntut ilmu tak mengenal waktu ataupun usia, mungkin dengan seperti ini, Tria bisa belajar, belajar mengerti akan takdir hidup, yang tak selalu selaras dengan keinginan. Ia mengerti, inilah kehidupannya, kehidupan yang harus senantiasa Ia jalani, entah sampai kapan.

-SELESAI-

Tidak ada komentar: